JPPR Bekerjasama Bawaslu DKI Jakarta Gelar Diskusi Bertemakan “Peranan Milenial Dan Media sosial Dalam Pengawasan Pemilu 2019

Journaljakarta.co.id, Jakarta –Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat menggelar diskusi bertemakan ” Peranan Milenial Dan Media sosial Dalam Pengawasan Pemilu 2019″ bertempat di Kafe Volatair , Jakarta (13/11).

Hadir pada diskusi ini Komisioner Bawaslu DKI Jakarta Muhammad Jupri , Manager Pemantauan Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR) Alwan Ola Riantoby dan para aktivis pemantau pemilu.

Tahun 2019 akan jadi momentum perubahan untuk Indonesia. Di tahun politik ini, masyarakat Indonesia akan memilih jajaran pejabat Negara yang akan menjadi pemimpin bangsa menuju masa depan yang lebih baik.

Hal baru yang akan terjadi di pemilu tahun depan adalah Pemilu Serentak, dimana pemilih akan langsung memilih anggota legislatif dan Presiden/Wakil Presiden di saat yang bersamaan. Jadi, pada Pemilu Serentak 2019 nanti, pemilih akan mendapat 5 surat suara, yang akan dibedakan dengan warna.

Kelima surat suara ini adalah surat suara Presiden dan Wakil Presiden, surat suara Anggota DPR RI, surat suara anggota DPD RI, surat suara anggota DPRD Provinsi dan surat suara anggota DPRD Kabupaten/Kota.

Hal lain yang akan berbeda dengan pemilu sebelumnya adalah jumlah pemilih Milenial yang membludak. Makanya, mereka diharapkan untuk menggunakan hak pilihnya di pesta demokrasi terbesar di Indonesia ini, sekaligus berperan aktif dalam pengawasan pemilu, sehingga kualitas pemilu 2019 bisa terjaga.

Komisioner Bawaslu DKI Jakarta Muhammad Jupri mengatakan bahwa yang akan menghadapi masa depan Indonesia ini ya mereka, generasi milenial. Kalau kita-kita kan sudah tua, karena mereka yang akan mengalami dan menghadapi, maka mereka harus berkontribusi dan saatnya adalah sekarang, dengat aktif melakukan pengawasan dan juga jangan golput.”

Lebih lanjut Jupri juga berharap kalau para pemilih muda bisa menjadi pemilih cerdas yang rasional, yang bisa mencari tahu, membaca dan memahami visi misi serta program kerja para kontestan/kandidat.

“Tentu harapan kami pemilih milenial ini juga bisa menjadi agen untuk bisa membawa perubahan. Karena sebagai kelompok milenial, mahasiswa, mereka masih memiliki idealisme yang tinggi dan bisa menyuarakan tentang bagaimana berpolitik yang bersih, berpolitik yang tanpa money politik, bagaimana kampanye yang tanpa hoax, tanpa ujaran kebencian. Jadi ini ada di pundak mereka sebagai pemilih milenial ini,” jelasnya.

Untuk menjadi pemilih yang cerdas ini, yang perlu dilakukan para pemilih milenial adalah pertama memastikan dirinya terdaftar sebagai pemilih. Hal ini bisa dilihat di www.lindungihakpilihmu.kpu.go.id dengan memasukkan Nomor Induk Kependudukan.

Bagi yang tidak terdaftar bisa melapor untuk dimasukan ke daftar pemilih hasil perbaikan (DPTHP).

Kedua adalah #KenaliCalonmu dengan melihat dan mempelajari rekam jejak dari setiap calon yang akan dipilih. Untuk memfasilitasi ini, KPU sudah menyediakan semua informasi terkait calon di situs infopemilu.kpu.go.id

Di situs ini para pemilih bisa mengakses daftar riwayat hidup dan data lain dari tiap calon.