Korban Bencana Bisa Diminimalisir Asal Pemanfaatan Peta Yang Terintegrasi

Journaljakarta.co.id, Jakarta –Serangkaian bencana alam yang terjadi di Indonesia seharusnya membuat pemerintah mempertimbangkan penggunaan peta bencana untuk tujuan manajemen bencana.

Hal ini diungkapkan oleh Peneliti dari Bidang Informasi Geospasial (BIG) Arief Syafi’i diacara media gathering ,Senopati,Jakarta
kamis (11/10).

Dalam peta tersebut, Arief menerangkan ada rangkaian tahap pra-bencana, saat bencana, hingga pascabencana yang memuat informasi di atas permukaan Bumi berdasarkan bentuk koordinat. Di tahap pra-bencana, peta manajemen yang disusun BIG memetakan ancaman bencana untuk langkah mitigasi.

Pemetaan tersebut diharapkan bisa membantu masyarakat di wilayah dengan status rawan bencana untuk siap siaga dalam melakukan langkah mitigasi.

Dalam mitigasi kita bisa minimalisir dampak. Informasi Geospasial harus disiapkan dalam siklus manajemen ini. Terutama dalam mitigasi. Data kami buka luas untuk dimanfaatkan pemerintah maupun Pemda dalam menyusun kebijakan kependudukan dan wilayah,” kata Arief

Senada, Kepala Bidang Pemetaan Kebencanaan dan Perubahan Iklim BIG Ferrari Pinem mengatakan tahap pra-bencana erat kaitannya dengan proses mitigasi. Dalam hal ini, tahap pra bencana mencakup pemetaan rawan bencana dan peta kontijensi. Berdasarkan data tersebut, nantinya pihak terkait bisa membaca daerah mana saja yang bisa mendapat fokus mitigasi bencana.

Ferrari mengatakan peta kontijensi bisa dipakai untuk mengurangi dampak ketidakpastian dengan melakukan pengembangan skenario dan proyeksi kebutuhan ketika dalam tahap darurat.

“Peta rawan bencana, ketika kita mengetahui lokasi rawan bencana , kita bisa mengantisipasi. Peta pra-bencana disiapkan untuk melakukan skenario agar saat terjadi bencana kita bisa mengantisipasi,” tutur Ferrari di kesempatan yang sama.

Saat terjadi bencana, pihak terkait yang terdiri dari BIG, LAPAN, dan BNPB bisa melakukan pementaan tanggap bencana. Pemetaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi dampak yang ditimbulkan dan rencana pemulihan pascabencana. Data pemetaan yang diperoleh juga bisa digunakan oleh pemerintah untuk mengirimkan bantuan dengan cepat dan tepat sasaran.

“Saat bencana yang dibutuhkan di sana berapa logistiknya, berapa yang terkena dampak, berapa keluarga yang terdampak. Kami terjun ke lapangan langsung cepat memetakan itu, nanti muncul, berapa daerah yang terdampak. berapa kebutuhan logistik di sana,” tutur Ferrari.

Sementara di tahap pascabencana atau pemulihan, seluruh data yang diperoleh saat pra-bencana dan saat terjadi bencana dikompilasi dan analisis untuk menghasilkan rekomendasi. Hasil analisis bisa diterapkan dalam Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk menentukan tingkat kelayakan lahan sebelum dibangun.

“Data yang dari peta rawan, kemudian peta dampak, peta tanggap bencana, kemudian diolah kembali untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan di dalam perencanaan tata ruang,” imbuh Ferrari.