Sesditjen : Kesehatan Perempuan Di Lapas Harus Diutamakan

Journaljakarta.com – Perundang-undangan di Indonesia memberikan narapidana hak dasar seperti akses kepada pendidikan, layanan kesehatan dan gizi. Namun keterbatasan struktural maupun institusional seperti penuh sesaknya Lapas/Rutan dan kurangnya anggaran, merupakan tantangan bagi Lapas/Rutan dalam menjalankan komitmen pemenuhan hak bagi narapidana/tahanan laki-laki maupun perempuan,  sekalipun keinginan itu sudah ada.

Pada bulan Mei 2018, di 526 Lapas/Rutan dan Cab. Rutan diisi oleh 242.903 narapidana/tahanan dan 13.568 orang diantaranya perempuan dewasa dan anak. Sepertiga narapidana/tahanan perempuan ini berada di 33 Lapas/Rutan yang dirancang khusus untuk menampung perempuan, namun sebagian besar perempuan ini masih ditempatkan di blok yang bersebelahan atau berada di dalam Lapas/Rutan yang difasilitasi untuk laki-Iaki.

Tahun 2017 Direktorat Jenderal Pemasyarakatan bekerjasama dengan UNODC telah melakukan pemetaan untuk meninjau kembali kebijakan dan praktek dilapangan, dan menghasilkan informasi strategis mengenai kebutuhan dan kesenjangan yang ada terkait kesehatan perempuan di Lapas/Rutan dengan menggunakan Panduan Aksi dan Daftar Periksa WHO/UNODC mengenai Kesehatan Perempuan di Lembaga Pemasyarakatan.

Selanjutnya dilakukan diseminasi informasi kepada pihak terkait di tingkat kementerian ataupun lembaga maupun badan dunia, perwakilan para duta besar dan LSM melalui Lokakarya Hak Dan Kesehatan Perempuan di Lapas/Rutan Indonesia. Hal tersebut sejalan dalam Resolusi PBB 58/183 tanggal 22 Desember 2003 yang telah diadopsi dalam Bangkok Rules yang disahkan pada 21 Desember 2010.

Direktur Perawatan Kesehatan dan Rehabilitasi, Asminan Mirza Zulkarnain mengutarakan bahwa tujuan dilaksanakannya kegiatan lokakarya perempuan lapas ini adalah untuk mengiformasikan hasil pemetaan mengenai situasi terkini kesehatan perempuan di Lapas/Rutan Indonesia dan mendiskusikan dengan pejabat dan pihak terkait tentang kebijakan dan praktek saat ini yang terkait kesehatan perempuan di Lapas/Rutan.

Upaya strategis mengatasi kesenjangan terkait kesehatan perempuan Lapas/Rutan Indonesia harus dilakukan secara maksimal dan berkesinambungan, sehingga hal yang menjadi tujuan kegiatan ini dilaksanakan dapat terpenuhi, ujar Mirza.

Mirza berharap lokakarya tersebut dapat menghasilkan kesepakatan terkait upaya mengoptimalkan perlakuan khususnya dalam bidang kebutuhan dasar dan kesehatan bagi perempuan di dalam Lapas/Rutan Indonesia.

Lokakarya tersebut dihadiri oleh sebanyak 80 orang peserta yang berasal dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Lapas Perempuan dan Rutan Perempuan diseluruh Indonesia, Komnas Perempuan Kementerian Kesehatan Direktorat Jenderal HAM, Bappenas, Kementerian Sosial , Kementerian Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linkages, USAID, UNAIDS, WHO, Bebera Kedutaan Besar seperti (Belanda, lnggris, Amerika, Kanada, Jepang, Australia, Swedia, Norwegia, Qatar, Thailand).

Sekretaris Dirjen PAS Sri Puguh Budi Utami dalam kata sambutannya mengatakan Kami mendorong warga binaan  bisa berkontribusi di Lapas. Di Lapas perempuan kasusnya rata-rata narkoba. Kalau ditanya  jarang mengaku pengguna narkoba. Mengaku dia tidak tau rata-rata jawabannnya. Trend penghuni Lapas naik terus untuk perempuan dan anak dewasa.

Sri menambahkan dalam treatmentnya harus khusus. Waga binaan Lapas perempuan untuk menjadi human capital. Di Lapas mesti ada kegiatan industri. Warga binaan 166.000 orang usia produktif dan Warga binaan 2.200 orang yang menghasilkan produk layak jual.

Sementara tugas memulihkan tanpa ada peningkatan mana mungkin bisa tercapai. Semua kembali kepada kita untuk mensikapi bila tidak menghasilkan apa-apa. Untuk Napi anggarannya 1.3 Triliun,  kita hanya bisa kasih makan aja. Penjara menjadi perjalanan yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan bangsa.

Pelajaran dari Thomas Alfa Edison, Ibunya Thomas mendapat surat dari sekolah karena kegeniusan anak anda sudah tidak tepat disekolah ini katanya kepada Thomas.  Akhirnya Thomas dicarikan sekolah yang lain. Kemudian hari ditemukan surat yang menyebut Thomas anak yang bodoh. Ibunya Thomas menyemangati terus anaknya.

Seorang Ibu bisa membalikkan dari anak bodoh menjadi anak yang jenius tutup Ibu Sekretaris Ditjen PAS.